Feb 1, 2021
0

System Keuangan Lama 

Penting sekali untuk mengetahui bahwa Dollar yang berkuasa atas mata uang di seluruh dunia, dijamin oleh Government of USA (The FED). Bahkan bukan hanya peredaran uang, kebijakan moneternya pun dikontrol oleh The FED. The FED memiliki control yang kuat terhadap Bank Sentral – Bank Sentral yang ada di sekitar 200 negara (refer to United Nations) di seluruh dunia. Yang pada akhirnya kebijakan The FED pun akan mempengaruhi kebijakan negara – negara lain di seluruh dunia.

Kalau kita telusuri, mengapa demikian? Apakah tidak bisa sebuah negara “mbalelo” terhadap kebijakan The FED?

Sebenarnya secara idealis kita jawab : Bisa Saja Mbalelo. Tentu dengan konsekuensinya. Sebetulnya konsekuensi secara nation-wide bisa dihitung dengan aljabar dan statistic dengan mudah. Let’s say, kalau kita mbalelo dengan kebijakan The FED maka inflasi negara akan naik sekian persen atau mungkin ekonomi akan terkontraksi sekian persen.

Ini angka yang sederhana. Pertanyaannya, apa konsekuensi angka – angka inflasi maupun kontraksi ekonomi tersebut kepada “bisnis – bisnis para penguasa”? Tentunya hal ini yang mendorong para penguasa – penguasa tersebut mengendorse keputusan yang “menyelamatkan” dirinya. (Saya tulis menyelamatkan, bukan menguntungkan, karena bisa saja berada dalam kondisi yang lose – lose).

Dari contoh di atas ketauan kalau kebijakan moneter itu dibuat oleh segelintir elite dan elite itu adalah penguasa. Namun bisa kita sederhanakan menjadi : Government mengambil kebijakan untuk mewakili komunitas.

Apa yang menjadi pertentangan dari sistem yang lama (yah walaupun itu masih dijalan kan hingga sekarang hingga kita belum tau kapan perubahannya) karena ada istilah "Multiplier Money" dan juga "Fractional Reserved". 

Multiplier Money ini efeknya luar biasa, karena bisa menyebabkan "uang hantu" yaitu bunga/ interest menjadi 700% dalam setahun. Ada yang di sebut dengan M0, M1. M2, M3 yang mana perpindahan uang dari M0 ke M1 akan menciptakan interest 3% dalam setahun.

Apabila perjalan uang tersebut hingga ke M3, maka bisa saja jumlah uang yang menjadi buble dan akhirnya menyentuh nilai 700% dalam setahun. Ini adalah sistem keuangan sekarang yang menyebabkan semua negara di dunia mempunyai utang. Pertanyaannya : "Kepada siapa mereka mengutang ?" 

Lalu bagaimana dengan sistem moneter yang baru? 

BITCOIN :


Bitcoin yang di bentuk pada tahun 2008, bertepatan dengan hancurnya Lehman Brothers dan USA terpaksa mem- "print" uang senilai $700m untuk mem "bailout" market agar tidak terjadi kekacauan pasar, tidak suka dengan kebijakan moneter Government / Old Money System ini, untuk 2 alasan yaitu :

Terlalu banyak permainan finansial sehingga pricing menjadi terlalu tinggi di atas nilai intrinsic/real yang sesungguhnya. Misal : rumah senilai 500 juta dapat menjadi 1 milyar karena system KPR/Mortgage plus ongkos notaris, komisi salesperson, biaya BPHTB dan biaya – biaya lainnya yang sebetulnya tidak menambah value dari rumah tersebut (it’s all liabilities).

Disamping itu ada potongan – potongan yang dirasa tidak perlu dibayarkan dan itu bisa dieliminasi oleh bitcoin. Ini nilai plus, namun kalau hanya itu yang ditonjolkan maka belum bisa menjadi deal breaker dengan sistem moneter lama.

Sayangnya menurut saya hal ini terlalu di-gimmick-kan oleh pelaku BTC bahwa system moneter saat ini menyebabkan orang “berutang seumur hidup”. Well, kita bisa argue bahwa sebelum BTC ada, sudah banyak saudara – saudara muslim yang menolak Bank karena Riba dan membangun system Syariah. (yang pada akhirnya menjadi Bank Syariah juga ).

Sejujurnya orang ber-utang karena dia punya keinginan yang melebihi kemampuannya dan terdapat fasilitas untuk utang. Jadi dia mengambil utang. As simple as that wkwkwk. Kalau ngga ada fasilitas utang, dia akan menabung atau menurunkan standar keinginannya.

Alasan kedua adalah yang cukup revolusioner : Bitcoin menolak system moneter yang sentralized dan membuat system moneter desentralized yang berarti setiap pemilik bitcoin bisa voting untuk menentukan algoritma apa yang akan dilaunch dalam sistem bitcoin berikutnya.

Think tank dari BTC adalah 600-an orang yang mempunyai keahlian dalam coding, programming, software, cryptography, security. Let me explain to you : when people of a community is elected with political procedure, maka ada peluang untuk system tersebut di-politisasi.

Artinya, seseorang dengan agenda politik dan resource yang cukup, dapat membuat dirinya atau perwakilannya terpilih dalam 600 orang tersebut. Mungkin awalnya jumlah mereka bukan 600, namun seiring berjalannya waktu, komite tersebut semakin banyak tentunya untuk “mengakomodir dan mendengar masukan – masukan dari pengguna bitcoin yang jumlahnya semakin besar”. Tentu alasan di atas akan terdengar masuk akal kan? ???? – yeah, politics. I hate the bullshit too, but I know them better.

 So the Question is :

What is the next plan of bitcoin?

Bagaimana strategi bitcoin untuk memperluas akses ke masyarakat umum?

Menjadi one world currency dengan nilai tukar 1 juta dollar per bitcoin akan menjadi sulit apabila tidak ada merchant. Ya tentu saja bitcoiners akan berargumen: kita ngga perlu merchant. Kalau lu mau transaksi sama gua, kirim aja bitcoin ke gua.


Oke boss, tapi kalau kita mau belanja di toko anda, tentunya kita ngga akan transfer btc ke anda juga kan (secara ngga semua customer kenal dengan shop ownernya). Berargumen bahwa suatu saat itu akan dihandle oleh machine by IoT juga itu namanya merchant. Merchant adalah system pembayaran (ATM, EDC, IoT atau apapun itu yang memungkinkan kita membayar sesuatu, yang receh maupun besar, dengan menggunakan bitcoin).


That’s the problem need to be solved by bitcoin !! 

Menunjukkan contoh bahwa orang beli lambo dengan bitcoin hanya menyatakan bahwa bitcoin bisa diterima untuk beberapa kasus besar, namun kasus tersebut tidak berlaku bagi sebagian besar orang (apalagi kalau nanti nilainya sudah cukup stabil di 1 juta dollar pada tahun 2140 dimana bitcoin sudah tidaj bisa di mining lagi.

Sanggahan:

Pertarungan melawan supremasi moneter dunia sudah berlangsung sejak sebelum era bitcoin. Ada khilafah, Syariah, system barter yang dikembangkan kembali di negara – negara asia timur, filosofi – filosofi budhism, dan lain sebagainya. Pada akhirnya kita kan butuh cara untuk menjawab real problem kita dalam hidup sehari – hari dan itu yang akan membuat orang meninggalkan mata uang lama dan switch ke bitcoin dengan system ekonominya.

Kesimpulan :

kalau bitcoin memang ditargetkan menjadi one world currency namun ekslusif (dipakai orang – orang tertentu yang akan transfer USD 1.3 Billion dollars tapi punya problem dengan transaction fee atau mereka – mereka yang the have saja) ya ngga masalah.

Kita tinggal ikut arus saja dan tahu kapan exit – nya untuk bisa cuan gede.
 

contributor: Isybel Harto & Mordekhai 

About author

CHAINSIGHT

Chainsight adalah media untuk memberikan informasi yang terkini tentang perkembangan Blockchain dan Cryptocurrency. Anti-Centralization | Anti-Fractional Reserved | Anti-Fiat |